Assalamualaikum
Sumber: kisahislam
Abu Qudamah dahulu dikenal sebagai orang yang hatinya dipenuhi
kecintaan akan jihad fisabilillah. Tidak pernah dia mendengar akan jihad fi
sabilillah, atau adanya perang antara kaum muslimin dengan orang kafir, kecuali
dia selalu ikut serta berjuang di pihak kaum muslimin.
Suatu ketika sedang ia duduk-duduk di Masjidil Haram, ada seseorang yang
menghampirinya seraya berkata: "Hai Abu Qudamah, anda adalah orang yang
gemar berjihad di jalan Allah, maka ceritakanlah peristiwa paling ajaib yang
pernah kau alami dalam berjihad."
"Baiklah, aku akan menceritakannya bagi kalian," kata Abu Qudamah.
"Suatu ketika aku berangkat bersama beberapa sahabatku untuk memerangi
kaum Salibis di beberapa pos kawalan dekat sempadan. Dalam perjalanan itu aku
melalui kota Raqqah (sebuah kota di Iraq, dekat sungai Eufrat). Di sana aku
membeli seekor unta yang akan kugunakan untuk membawa persenjataanku. Di samping
itu aku mengajak warga kota melalui masjid-masjid, untuk ikut serta dalam jihad
dan berinfaq fi sabilillah.
Menjelang malamnya, ada orang yang mengetuk pintu. Tatkala kubukakan, ternyata
ada seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan pakaiannya.
"Apa yang anda inginkan?" tanyaku.
"Andakah yang bernama Abu Qudamah?" katanya balik bertanya.
"Benar," jawabku.
"Andakah yang hari ini mengumpulkan dana untuk membantu jihad di
perbatasan?" tanyanya kembali.
"Ya, benar," jawabku.
Maka wanita itu menyerahkan secarik kertas dan sebuah bungkusan
terikat, kemudian berpaling sambil menangis.
Pada kertas itu tertulis, "Anda mengajak kami untuk ikut berjihad, namun
aku tidak sanggup untuk itu. Maka kupotong dua pintal rambut kesayanganku (1)
agar anda jadikan sebagai tali kuda Anda. Kuharap bila Allah melihatnya pada
kuda Anda dalam jihad, Dia mengampuni dosaku kerananya."
"Demi Allah, aku kagum atas semangat dan kegigihannya untuk ikut berjihad,
demikian pula dengan kerinduannya untuk mendapat ampunan Allah dan
Syurga-Nya," kata Abu Qudamah.
Keesokan harinya, aku bersama sahabatku berangkat meninggalkan Raqqah. Tatkala kami tiba dimedan Maslamah bin Abdul Malik, tiba-tiba dari belakang ada
seseorang penunggang kuda yang memanggil-manggil,
"Hai Abu Qudamah.. Hai Abu Qudamah.. tunggulah sebentar, semoga Allah
merahmatimu," laung orang itu.
"Kalian berangkat dahulu, biar aku yang mencari siapa orang ini,"
perintahku kepada para sahabatku.
Ketika aku hendak menyapanya, orang itu mendahuluiku dan mengatakan, "Segala
puji bagi Allah yang mengizinkanku untuk ikut bersamamu, dan tidak menolak
penyertaanku."
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku.
"Aku ingin ikut bersamamu memerangi orang-orang kafir," jawabnya.
"Perlihatkan wajahmu, aku ingin lihat, kalau engkau memang cukup dewasa
dan wajib berjihad, akan aku terima. Namun jika masih kecil dan tidak wajib
berjihad, terpaksa kutolak." kataku.
Ketika ia menyingkap wajahnya, tampaklah olehku wajah yang putih bersinar bak
bulan purnama. Ternyata ia masih muda belia, dan umurnya baru 17 tahun.
"Wahai anakku, apakah kamu memiliki ayah?" tanyaku.
"Ayah terbunuh di tangan kaum Salibis dan aku ingin ikut bersamamu untuk
memerangi orang-orang yang membunuh ayahku," jawabnya.
Bagaimana dengan ibumu, masih hidupkah dia?" tanyaku lagi.
"Ya," jawabnya.
"Kembalilah ke ibumu dan jagalah ia baik-baik, kerana syurga ada di bawah
telapak kakinya," pintaku kepadanya.
"Kau tidak kenal ibuku?" tanyanya
"Tidak," jawabku.
"Ibuku ialah pemilik amanah itu," katanya.
"Amanah yang mana," tanyaku
"Dialah yang mengamanahkan tali kuda itu," jawabnya.
"Tali kuda yang mana?" tanyaku kehairanan.
"Subhanallah..!! Alangkah pelupanya Anda ini, tidak ingatkah Anda dengan
wanita yang datang malam tadi menyerahkan seutas tali kuda dan
bingkisan?"
"Ya , aku ingat," jawabku.
"Dialah ibuku! Dia menyuruhku untuk berjihad bersamamu dan mengambil
sumpah dariku supaya aku tidak kembali lagi," katanya.
"Ibuku berkata, "Wahai anakku, jika kamu telah berhadapan dengan
musuh, maka janganlah kamu melarikan diri. Persembahkanlah jiwamu untuk Allah.
Mintalah kedudukan di sisi-Nya, dan mintalah agar engkau ditempatkan bersama
ayah dan bapa saudaramu di Jannah. Jika Allah mengurniaimu mati syahid, maka
mintalah syafa'at bagiku."
Kemudian ibu memelukku, lalu mendongakkan kepalanya ke langit seraya berkata,
"Ya Allah.. Ya Ilahi.. inilah puteraku, buah hati dan belahan jiwaku,
kupersembahkan dia untukmu, maka dekatkanlah dia dengan ayahnya."
"Aku benar-benar takjub dengan anak ini," kata Abu
Qudamah, lalu anak itupun segera merayu, "Kerananya, kumohon atas nama
Allah, janganlah engkau halangi aku untuk berjihad bersamamu. InsyaaAllah
akulah asy-syahid putra asy-syahid. Aku telah hafal al-Qur'an. Aku juga pandai
menunggang kuda dan memanah. Maka janganlah meremehkanku hanya karena usiaku
yang masih muda," kata anak itu memelas.
Setelah mendengar permintaannya aku tidak upaya melarangnya, maka kusertakanlah
ia bersamaku.
Demi Allah, ternyata tidak pernah kulihat orang yang lebih cekap darinya.
Ketika pasukan bergerak, dialah yang tercepat ketika kami singgah untuk
beristirahat, dialah yang paling sibuk menguruskan kami, sedang lidahnya tidak
pernah berhenti dari dzikrullah sama sekali.
Kemudian kamipun singgah di suatu tempat dekat pos sempadan. Semasa itu
matahari hampir tenggelam dan kami dalam keadaan berpuasa. Maka ketika kami
hendak menyiapkan hidangan untuk berbuka dan makan malam, pemuda itu
bersumpah atas nama Allah bahawa ialah yang akan menyiapkannya.
Tentu saja kami melarangnya kerana ia baru saja keletihan kerana perjalanan
yanh jauh tadi.
Akan tetapi pemuda itu berkeras untuk menyiapkan hidangan bagi kami.
Maka ketika kami beristirahat di suatu tempat, kami katakan kepadanya,
"Jauhkan sedikit agar asap kayu apimu tidak mengganggu kami."
Maka pemuda itupun mengambil tempat yang agak jauh dari kami untuk memasak.
Akan tetapi ia itu tidak kunjung tiba. Mereka merasa bahawa ia agak terlambat
menyiapkan hidangan mereka.
"Hai Abu Qudamah, tengoklah pemuda itu. Ia telah terlalu lama memasak.
Apa dah jadi dengannya?" pinta seseorang kepadaku. Lalu aku bergegas
menemuinya, maka kudapati pemuda itu telah menyalakan api unggun dan memasak
sesuatu di atasnya. Tetapi kerana terlalu letih, iapun tertidur sambil
menyandarkan kepalanya pada sebuah batu.
Melihat keadaanya yang seperti itu, sungguh demi Allah aku tidak sampai hati
mengganggu tidurnya, namun aku juga tidak mungkin kembali kepada
sahabat-sahabatku dengan tangan hampa, kerana sampai sekarang kami belum
memakan apa-apa.
Akhirnya kuputuskan untuk menyiapkan makanan itu sendiri. Akupun mula
menyediakan masakan, sambil memasak, sesekali aku memandang pemuda itu. Suatu
ketika terlihat olehku bahawa anak muda itu tersenyum. Lalu perlahan-lahan
senyumnya makin melebar dan mulailah ia tertawa kegirangan.
Aku merasa takjub melihat tingkah lakunya itu, kemudian ia tersentak dari
mimpinya dan terbangun.
Ketika melihatku menyiapkan masakan sendirian, ia nampak gugup dan terburu-buru
mengatakan, "Pak cik, maafkan aku, nampaknya aku terlambat menyiapkan
makanan bagi kalian."
"Ah tidak, sebenarnya kamu tidak terlambat ," jawabku.
"Sudah, tinggalkan saja masakan ini, biar aku yang menyiapkannya, aku
adalah pelayan kalian selama jihad," kata pemuda itu.
"Tidak," sahutku, "Demi Allah, engkau tidak kuizinkan menyiapkan
apa-apa bagi kami sampai engkau menceritakan kepadaku apa yang membuatmu
tertawa sewaktu tidur tadi? Keadaanmu sungguh menghairankan," ujarku.
"Pak cik, itu cuma mimpi yang kulihat sewaktu tidur," kata pemuda
itu.
"Mimpi apa yang engkau lihat?" tanyaku.
"Sudahlah, tidak usah bertanya tentangnya. Ini masalah pribadi antara aku
dengan Allah," sahut pemuda itu.
"Tidak boleh "Mimpi apa yang engkau lihat?" tanyaku.
"Sudahlah, tidak usah bertanya tentangnya. Ini masalah pribadi antara aku
dengan Allah," sahut pemuda itu.
"Tidak boleh, kumohon atas nama Allah agar kamu menceritakannya,"
kataku.
"Pak cik, dalam mimpi tadi aku melihat seakan aku berada di Jannah,
kudapati Jannah itu dalam segala keindahan dan keanggunannya, sebagaimana yang
Allah ceritakan dalam al-Qur'an.
Ketika aku berjalan-jalan di dalamnya dengan rasa kagum, tiba-tiba terlihat
olehku sebuah istana megah yang berkilauan, dindingnya dari emas dan perak,
tiangnya dari mutiara dan batu permata, dan gerbangnya dari emas.
Di tiang itu ada kerai-kerai yang terjuntai, lalu perlahan kerai itu tersingkap
dan nampaklah gadis-gadis remaja yang cantik jelita, wajah mereka bersinar bak
rembulan."
Kutatap wajah-wajah cantik itu dengan penuh kekaguman, sungguh, kecantikan yang
luar biasa, kelu lidahku, lalu muncullah seorang gadis lain yang lebih cantik
dari mereka, dengan telunjuknya ia memberi isyarat kepada gadis yang ada di
sampingnya seraya mengatakan, "Inilah (calon) suami al-Mardhiyyah.. ya,
dialah calon suaminya.. benar, dialah orangnya!"
Aku tidak faham siapa itu al-Mardhiyyah, maka aku bertanya kepadanya,
"Kamukah al-Mardhiyyah..?"
"Aku hanyalah satu di antara dayang-dayang al-Mardhiyyah.." katanya.
"Anda ingin bertemu dengan al-Mardhiyyah..?" tanya gadis itu.
"Kemarilah.. masuklah ke sini, semoga Allah merahmatimu," serunya.
Tiba-tiba kulihat diatasnya ada sebuah bilik dari emas merah.. dalam bilik itu
ada tilam yang bertahtakan permata hijau dan kaki-kakinya terbuat dari perak
putih yang berkilauan.
Dan di atasnya.. seorang gadis remaja dengan wajah bersinar laksana surya!!
Kalaulah Allah tidak memantapkan hati dan penglihatanku, niscaya butalah mataku
dan hilanglah akalku kerana tidak kuasa menatap kecantikannya..!!!
Tatkala ia menatapku, ia menyambutku seraya berkata, "Selamat datang, hai
Wali Allah dan Kekasih-Nya. Aku diciptakan untukmu, dan engkau adalah
milikku."
Mendengar suara merdu itu, aku berusaha mendekatinya dan menyentuhnya..
namun sebelum tanganku sampai kepadanya, ia berkata, "Wahai kekasihku dan
tambatan hatiku.. semoga Allah menjauhkanmu dari segala kekejian.. urusanmu di
dunia masih tersisa sedikit.. InsyaaAllah besok kita akan bertemu selepas
Ashar."
Akupun tersenyum dan senang mendengarnya."
Abu Qudamah melanjutkan, "Selesai mendengar cerita si pemuda yang indah
tadi, aku berkata kepadanya, "InsyaaAllah mimpimu merupakan pertanda
baik."
Lalu kamipun makan hidangan tadi bersama-sama, kemudian meneruskan perjalanan
kami menuju pos perbatasan.
**************************************************************************
catatatan :
1. Ibnul Jauzi dalam syarahnya mengatakan, "Wanita ini niatnya baik, namun
caranya keliru kerana ia tidak tahu bahawa perbuatannya itu - yakni memotong
ikatan rambutrnya - terlarang, kerananya dalam hal ini kita hanya mengikuti
niatnya saja."
**************************************************************************
Setibanya di pos perbatasan kami menurunkan semua muatan dan bermalam di sana.
Keesokan harinya setelah menunaikan sholat fajar, kita bergerak ke medan
pertempuran untuk menghadapi musuh.
Panglima (Comandant) bangun untuk mengatur barisan. Ia membaca permulaan Surat
al-Anfaal. Ia mengingatkan kami akan besarnya pahala jihad fi sabilillah dan
mati syahid, sambil terus mengobarkan semangat jihad kaum muslimin.
Abu Qudamah menceritakan, "Tatkala kuperhatikan orang-orang di sekitarku,
kudapati masing-masing dari mereka mengumpulkan anak buahnya di kelilingnya.
Adapun si pemuda, ia tidak punya ayah yang memanggilnya, atau bapa saudara yang
mengajaknya, dan tidak pula saudara yang mendampinginya.
Akupun terus mengikuti dan memperhatikan gerak-geriknya, lalu terlihatlah
olehku bahawa ia berada di barisan terdepan. Maka segeralah kukejar dia,
kusibak barisan demi barisan hingga sampai kepadanya, kemudian aku berkata,
"Wahai anakku, apakah engkau ada pengalaman berperang..?"
"Tidak.. tidak pernah. Ini justru pertempuranku yang pertama kali melawan
orang kafir," jawab pemuda itu.
"Wahai anakku, sesungguhnya perkara ini tidak semudah yang engkau
bayangkan, ini adalah peperangan. Satu pertumpahan darah di tengah gemerincingnya
pedang, ringkikan kuda, dan hujan panah.
Wahai anakku, sebaiknya engkau ambil tempat di belakang saja. Jika kita menang
engkaupun ikut menang, namun jika kita kalah engkau tidak menjadi korban
pertama," pintaku kepadanya.
Lalu dengan tatapan penuh kehairanan ia berkata," Pak cik, engkau berkata
seperti itu kepadaku..!?"
"Ya, aku mengatakan seperti itu kepadamu," jawabku.
"Pak cik.. apa engkau menginginkanku jadi penghuni neraka..?"
tanyanya.
"A'uudzubillaah!! Sungguh, bukan begitu.. kita semua tidak berada di medan
jihad seperti ini kecuali kerana lari dari neraka dan memburu syurga,"
jawabku.
Lalu kata si pemuda, "Sesungguhnya Allah berfirman, "Hai orang-orang
beriman, apabila kamu bertemu orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka
janganlah kamu membelakangi mereka(mundur). Barangsiapa yang membelakangi
mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (strategi) perang atau
hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu
kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan
amat buruklah tempat kembalinya itu."(QS. Al-Anfaal: 15-16)
"Adakah Pak cik menginginkan aku berpaling membelakangi mereka sehingga
tempat kembaliku adalah neraka?" tanyanya.
Akupun hairan dengan kegigihannya dan sikapnya yang memegang teguh ayat
tersebut. Kemudian aku berusaha menjelaskan, "Wahai anakku, ayat itu
maksudnya bukan seperti yang engkau katakan." Namun tetap saja ia berkeras
tidak mau berpindah ke belakang. Akupun menarik tangannya secara paksa, membawa
ke akhir barisan. Namun ia justru menarik lengannya kembali seakan ingin
melepaskan diri dari genggamanku. Lalu perangpun dimulai dan aku terhalang oleh
pasukan berkuda darinya.
Dalam kancah pertempuran itu terdengarlah derap kaki kuda, diiringi gemerincing
pedang dan hujan panah, lalu mulalah kepala-kepala berjatuhan satu-persatu. Bau
hanyir darah tercium di mana-mana. Tangan dan kaki bergelimpangan. Dan
tubuh-tubuh tidak bernyawa terbujur bermandi darah.
Demi Allah, perang itu telah menyibukkan setiap orang akan dirinya sendiri dan
melupakan orang lain. Sebatan dan kilatan pedang di atas kepala yang tidak
henti-hentinya, menjadikan suhu memuncak, seakan-akan ada tungku api yang
menyala di atas kami.
Perangpun makin memuncak, kedua pasukan bertempur habis-habisan sampai matahari
tergelincir dan masuk waktu zhuhur. Ketika itulah Allah berkenan
menganugerahkan kemenangan bagi kaum muslimin, dan pasukan Salib lari
tunggang-langgang.
Setelah mereka kalah dan berundur, aku berkumpul bersama beberapa orang
sahabatku untuk menunaikan sholat zhuhur. Selepas sholat, mulailah
masing-masing dari kami mencari sanak keluarganya di antara para korban perang.
Sedangkan si pemuda itu.. tidak ada seorangpun yang mencarinya atau menanyakan
khabarnya. Maka kukatakan dalam hati, "Aku harus mencarinya dan mengetahui
keadaannya, barangkali ia terbunuh, terluka atau jatuh dalam tawanan
musuh?"
Akupun mulai mencarinya di tengah para korban, aku menoleh ke kanan dan kiri
kalau-kalau ia terlihat olehku. Di masa itulah aku mendengar ada suara yang
lemah di belakangku yang mengatakan, "Saudara-saudara.. tolong panggilkan
pak cik ku Abu Qudamah kemari.. panggilkan Abu Qudamah kemari."
Aku menoleh kearah suara tadi, ternyata tubuh itu ialah tubuh si pemuda dan
ternyata puluhan tombak telah menusuk tubuhnya. Ia terpijak oleh pasukan
berkuda. Dari mulutnya keluar darah segar. Badannya terkoyak-koyak (luka) dan
tulangnya patah teruk.
Ia terlantar seorang diri di tengah padang pasir. Maka aku segera bersimpuh di
hadapannya dan berteriak sekuat tenagaku, "Akulah Abu Qudamah..!! Aku ada
di sampingmu..!!"
"Segala puji bagi Allah yang masih menghidupkanku hingga aku dapat
berwasiat kepadamu.. maka dengarlah baik-baik wasiatku ini.." kata pemuda
itu.
Abu Qudamah mengatakan, sungguh demi Allah, tidak kuasa menahan tangisku. Aku
teringat akan segala kebaikannya, sekaligus sedih akan ibunya yang tinggal di
Raqqah. Tahun lalu ia dikejutkan dengan kematian suami dan saudara-saudaranya,
lalu sekarang dikejutkan dengan kematian anaknya.
Aku menyingsingkan sebahagian kainku lalu mengusap darah yang menutupi wajah
pucatnya itu. Ketika ia merasakan sentuhanku ia berkata, "Pak cik..
usaplah darahku dengan pakaianku, dan jangan engkau usap dengan
pakaianmu."
Demi Allah, aku tidak kuasa menahan tangisku dan tidak tahu harus berkata apa.
Sesaat kemudian, anak muda itu berkata dengan suara yang lemah, "Pak cik..
berjanjilah bahawa sepeninggalku nanti engkau akan kembali ke Raqqah, dan
memberi khabar gembira bagi ibuku bahawa Allah telah menerima hadiahnya, dan
bahawa anaknya telah gugur di jalan Allah dalam keadaan maju dan pantang
berundur. Sampaikan pula kepadanya jikalau Allah menakdirkanku sebagai syuhada,
akan kusampaikan salamnya untuk ayah dan baba saudaraku di jannah.
Pak cik.. aku khawatir kalau nanti ibu tidak mempercayai ucapanmu. Maka
ambillah pakaianku yang berlumuran darah ini, kerana bila ibu melihatnya ia
akan yakin bahawa aku telah terbunuh, dan insyaaAllah kami bertemu kembali di
jannah.
Pak cik.. setibanya engkau di rumahku, akan engkau temui seorang gadis kecil
berumur sembilan tahun. Ia adalah adikku.. tidak pernah aku masuk rumah
kecuali ia menyambutku dengan keceriaan, dan tidak pernah aku pergi kecuali
diiringi isak tangis dan kesedihannya. Ia begitu terkejut ketika mendengar kematian
ayah tahun lalu, dan sekarang ia akan terkejut mendengar kematianku.
Ketika melihatku mengenakan pakaian safar ia berkata dengan berat hati,
"Abang.. jangan engkau tinggalkan kami lama-lama.. segeralah pulang..
!!"
Pak cik.. jika engkau bertemu dengannya maka hiburlah hatinya dengan kata-kata
yang manis. Katakan kepadanya bahawa abangmu mengatakan, "Allah-lah yang
akan menggantikanku mengurusmu."
Abu Qudamah melanjutkan, "Kemudian anak muda itu berusaha menguatkan
dirinya, namun nafasnya mulai sesak dan kata-katanya tidak jelas. Ia berusaha
kedua kalinya untuk menguatkan dirinya dan berkata,
"Pak cik.. demi Allah, mimpi itu benar.. mimpi itu sekarang menjadi
kenyataan. Demi Allah, masa ini aku benar-benar sedang melihat al-Mardhiyyah
dan mencium bau wanginya."
Lalu pemuda itu mulai sekarat, dahinya berpeluh, nafasnya tersekat-sekat dan
kemudian wafat di pangkuanku."
Abu Qudamah berkata, "Maka kulepaskan pakaiannya yang berlumuran darah,
lalu kuletakkan dalam sebuah bekas, kemudian kukebumikan dia. Selesai
mengebumikannya, keinginan terbesarku ialah segera kembali ke Raqqah dan
menyampaikan pesannya kepada ibunya.
Maka akupun kembali ke Raqqah. Aku tidak tahu siapa nama ibunya dan dimana
rumah mereka.
Tatkala aku menyusuri jalan-jalan di Raqqah, terlihat olehku sebuah rumah. Di
depan rumah itu ada gadis kecil berumur Sembilan tahun yang berdiri menunggu
kedatangan seseorang. Ia melihat-lihat setiap orang yang lalu di depannya.
Setiap kali melihat orang yang baru pulang dari bepergian ia bertanya, "Pak
cik.. Anda datang dari mana?"
"Aku datang dari jihad," kata lelaki itu.
"Kalau begitu abangku ada bersamamu..?" tanyanya.
"Aku tidak kenal, siapa abangmu..?" kata lelaki itu sambil berlalu.
Lalu melintaslah orang kedua, dan tanyanya, "Akhi, Anda datang dari
mana?"
"Aku datang dari jihad," jawabnya.
"Abangku ada bersamamu?" tanya gadis itu.
"Aku tidak kenal, siapa abangmu..?" kata lelaki itu sambil berlalu.
Lalu melintasalah orang ketiga, keempat, dan demikian seterusnya. Lalu setelah
putus asa menanyakan saudaranya, gadis itu menangis sambil tertunduk dan
berkata, "Mengapa mereka semua kembali tetapi abangku tidak kunjung
kembali?"
Melihat ia seperti itu, akupun datang menghampirinya. Ketika ia melihat
kesan-kesan safar padaku dan beg yang kubawa, ia bertanya, "Pak cik.. Anda
datang dari mana?"
"Aku datang dari jihad," jawabku.
"Kalau begitu abangku ada bersamamu?" tanyanya.
"Dimanakah ibumu?" tanyaku.
"Ibu ada di dalam rumah," jawabnya.
"Sampaikan kepadanya agar ia keluar menemuiku," perintahku kepadanya.
Ketika perempuan tua itu keluar, ia menemuiku dengan wajah tertutup pakaiannya.
Ketika aku mendengar suaranya dan ia mendengar suaraku, ia bertanya, "Hai
Abu Qudamah, engkau datang hendak mengucapkan takziah atau memberi khabar
gembira?"
Maka tanyaku, "Semoga Allah merahmatimu. Jelaskanlah kepadaku apa yang
engkau maksud dengan ucap takziah dan khabar gembira itu?"
"Jika engkau hendak mengatakan bahawa anakku telah gugur di jalan Allah,
dalam keadaan maju dan pantang berundur bererti engkau datang membawa
khabar gembira untukku, kerana Allah telah menerima hadiahku yang telah
kusiapkan untuk-Nya sejak tujuh belas tahun silam.
Namun jika engkau hendak mengatakan bahawa anakku kembali dengan selamat dan
membawa ghanimah, bererti engkau datang untuk bertakziah kepadaku, kerana Allah
belum berkenan menerima hadiah yang kupersembahkan untuk-Nya," jelas si
perempuan tua.
Maka ku katakan, "Kalau begitu aku datang membawa khabar gembira untukmu.
Sesungguhnya anakmu telah terbunuh fi sabilillah dalam keadaan maju dan pantang
mundur. Ia bahkan masih menyisakan sedikit kebaikan, dan Allah berkenan untuk
mengambil sebahagian darahnya hingga ia redha."
'Tidak!, kurasa engkau tidak berkata jujur," kata si ibu sambil memandang
kepada bekas yang kubawa, sedang puterinya menatapku dengan tenang.
Maka ku keluarkanlah isi beg tersebut, kutunjukkan kepadanya pakaian puteranya
yang berlumuran darah. Nampak serpihan wajah anaknya berjatuhan dari kain itu,
diikuti titisan darah yang bercampur beberapa helai rambutnya.
"Bukankah ini adalah pakaiannya.. dan ini serbannya.. lalu ini seluarnya
yang engkau kenakan kepada anakmu sewaktu berangkat berjihad..?" kataku.
"Allaahu Akbar..!!" teriak si ibu kegirangan.
Adapun gadis kecil tadi, ia justru meraung seperti histeris lalu jatuh terkulai
tidak sedarkan diri. Tidak lama kemudian ia mulai merintih, "Aakh..!
aakh..!"
Si ibu merasa cemas, ia bergegas masuk kedalam mengambil air untuk puterinya,
sedang aku duduk di samping kepalanya, menjiruskan air kepadanya.
Demi Allah, ia tidak sedang merintih.. ia tidak sedang memanggil-manggil
abangnya. Akan tetapi ia sedang sekarat!! Nafasnya semakin berat.. dadanya
kembang kempis.. Lalu perlahan rintihannya terhenti. Ya, gadis itu telah tiada.
Setelah puterinya tiada, ia mendakapnya lalu membawanya ke dalam rumah dan
menutup pintu di hadapanku. Namun sayup-sayup terdengar suara dari dalam,
"Ya Allah, aku telah merelakan kepergian suamiku, saudaraku, dan anakku di
jalan-Mu. Ya Allah, kuharap Engkau meridhaiku dan mengumpulkanku bersama mereka
di jannah-Mu."
Abu Qudamah berkata, "Maka kuketuk pintu rumahnya dengan harapan ia akan
membukakan. Aku ingin memberinya sejumlah wang, atau menceritakan kepada
orang-orang tentang kesabarannya sehingga kisahnya menjadi teladan. Akan tetapi
sungguh, ia tidak membukanya untukku ataupun menjawab seruanku.
"Sungguh demi Allah, tidak pernah kualami kejadian yang lebih menakjubkan
dari ini," kata Abu Qudamah mengakhiri kisahnya
Lihatlah, bagaimana si ibu mengorbankan segala yang ia miliki demi mengharapkan
kebahagiaan ukhrawi. Ia memerintahkan anaknya untuk berjihad fi sabilillah demi
keridhaan Ilahi. Maka bagaimanakah nasib para pemalas seperti kita. Apa yang
telah kita korbankan demi keridhaan-Nya?"